| Penulis | Andromeda W. Ciptadi |
| Ukuran | 15,24 × 22,86 cm |
| Jumlah Halaman | 328 halaman |
| ISBN | - |
Perang gerilya selama ini dikaitkan dengan hutan, pegunungan, dan desa yang dapat memberikan perlindungan bagi pihak yang lebih lemah. Karena itu, banyak orang menganggap laut bukan ruang yang cocok bagi strategi gerilya. Laut yang terbuka seolah hanya menguntungkan pihak yang memiliki armada besar dan kekuatan yang lebih unggul.
Buku ini mengajak pembaca melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Gerilya laut berkembang dengan caranya sendiri. Pengaruhnya dibangun melalui gangguan yang dilakukan berulang kali sehingga lawan dipaksa mengalokasikan sumber daya yang semakin besar dan menghadapi tekanan kumulatif yang terus meningkat hanya untuk mempertahankan kondisi yang ada.
Pengalaman di Atlantik maupun berbagai konflik maritim masa kini, seperti di Selat Hormuz, memperlihatkan pola yang serupa. Kekuatan yang lebih kecil tetap mampu memberi tekanan kepada lawan yang lebih besar. Dalam keadaan tertentu, pihak yang unggul justru dipaksa menyesuaikan langkah dan mengalihkan perhatiannya ke berbagai arah.
Gerilya di laut memiliki karakter yang berbeda dari gerilya di darat. Melalui berbagai contoh dan pengalaman sejarah, buku ini memperlihatkan bagaimana strategi tersebut berkembang di lingkungan maritim. Pembaca diajak memahami bahwa perang di laut tidak hanya ditentukan oleh besarnya kekuatan, namun juga oleh kemampuan menciptakan tekanan yang memengaruhi tindakan lawan.
Copyright © Pandiva | All rights reserved. Website by JMW